
Film Godzilla (1954) yang disutradarai oleh Ishiro Honda telah melampaui popularitas lokalnya menjadi sebuah sensasi monster yang berskala global-keberadaannya menjadi salah satu contoh utama yang hadir dalam ingatan orang-orang jika membahas monster-monster ikonik dalam industri perfilman. Saya yakin kebanyakan orang saat ini telah sadar akan asal-usul atomik lahirnya Godzilla. Monster ini sendiri telah diatributkan sebagai sebuah alegori terhadap dampak luar biasa dari bom nuklir yang menghancurkan kota Hiroshima dan Nagasaki. Sosoknya yang menjulang dan raksasa serta kepalanya yang berbentuk seperti jamur menyerupai awan ledakan yang dihasilkan oleh ledakan bom atom. Kulitnya yang berbekas dengan keloid dan berwarna hitam serta duri di punggungnya membangkitkan sebuah ingatan kepada korban-korban ledakan bom nuklir yang selamat dari peristiwa tersebut. Auman dan teriakannya pun justru memberikan indikasi bahwa teriakannya bukanlah sebuah perlawanan terhadap manusia-manusia yang melawannya namun lebih tepatnya teriakan kesakitan dan penderitaan yang dialami dan dirasakan dari keberadaannya sendiri.
Ketika penonton Jepang pasca perang dunia duduk di tengah gelapnya bioskop dan menonton film Kaiju karya Ishiro Honda tahun 1954 yang diasumsikan hanyalah sebuah trend yang mengikuti kesuksesan film King Kong pada tahun 1933, mereka justru menyaksikan eksistensi masa kini, masa lalu yang teramat dekat, dan cuplikan terhadap masa yang akan datang. Film tersebut membawa kembali gema era peperangan satu dekade yang lalu namun juga teleskop terhadap sebuah peristiwa yang terjadi beberapa bulan sebelum premier film tersebut, yakni kapal nelayan Daigo Fukuryu Maru (Lucky Dragon 5) yang terkena dampak ledakan percobaan nuklir Amerika Serikat di Bikini Atoll. Dalam film tersebut, percobaan bom nuklir yang serupa menjadi penyebab utama terbangunnya predator kuno Gojira dari tidurnya dan mendatangi umat manusia sebagai bentuk pembalasan.

Meskipun demikian, 60 tahun kemudian, sosok Godzilla sebagai seekor monster telah mengalami perubahan yang begitu drastis, menjadi sebuah sosok yang identik dengan maskot nasional. Bahkan hal ini berujung ketika pada tahun 2015 Godzilla, sebuah karakter fiksional, mendapatkan sertifikat kewarganegaraan dari pemerintah Jepang dan dinobatkan sebagai duta turisme resmi negara. Meskipun ini bisa dicap hanya sebagai komersialisasi dari sebuah simbol kultur pop, terdapat sebuah proses menarik yang dimana seekor makhluk yang diciptakan sebagai suatu simbol trauma masyarakat nasional direkonfigurasi menjadi sebuah lambang kebanggaan nasional. Sebagaimana yang akan saya bahas dalam esai ini, hal ini kemungkinan berakar dalam beberapa faktor baik dari sentimen nasionalistik dan penggunaan dari pihak negara hingga pemaknaan ulang dari trauma nasional.
Godzilla dalam Konteks Sinema Nasional: Merekonfigurasikan Trauma Nasional

Memang benar bahwa ada sebuah transformasi dari sesosok Godzilla dari sebuah film yang kemudian berkembang menjadi lisensi yang diakui dan dikenal oleh publik yang akhirnya diresmikan oleh pemerintah. Legitimasi dari Godzilla mengimplikasikan bahwa ada sebuah esensi nasional tertentu yang hadir dalam narasi filmnya; bagaimana film tersebut merepresentasikan kesadaran kolektif dan semangat bangsa pada periode itu. Film sendiri pada umumnya memiliki potensi untuk mengandung konfigurasi nasional dikarenakan film sendiri adalah sejarah sinematik dari ‘negara’ yang dipandang menurut populasi dan keberadaannya adalah bentuk modulasi semantik budaya yang spesifik secara historis yang dikonstitusikan oleh pihak yang berkuasa pada wilayah tertentu; institusi dari sebuah negara menjadi faktor yang penting dalam menentukan fungsi industri perfilman dan kegunaannya dalam praktik kultural. Nilai diskursif dari film dapat terkandung dalam fakta bahwa film bukan hanyalah sebuah cerminan dari realita namun juga memiliki sebuah potensi untuk bernuansa fantastikal sebagai bentuk seni, artinya mereka memiliki potensi untuk mendirikan makna-makna tertentu pada sebuah peristiwa, masalah, dan masyarakat pada umumnya. Film dapat memediasikan antara peristiwa nyata dengan masyarakat awam yang menontonnya sehingga nilai-nilai dan pesan moral yang terkandung dalam film tersebut membekas dalam kesadaran dan ingatan mereka lebih lama dan lebih dalam dari menonton berita atau membaca sebuah buku.
Faktanya, cakupan media Jepang mengenai Godzilla ketika awal penayangannya melaporkan bahwa adanya penonton yang meninggalkan bioskop sambil menangis dikarenakan film tersebut memberikan lepasan katartik pasca okupasi Amerika Serikat melarang diskusi mengenai bom atom dan juga subjek tersebut masih menjadi tabu untuk dibahas setelah Jepang meraih kembali otonominya. Godzilla ‘memaksa’ masyarakat dan audiensnya untuk mengkonfrontasi dan menghadapi emosi mereka sendiri mengenai bom nuklir. Melihat kembali konteks film tersebut yang ditayangkan setelah okupasi AS di jepang dan peristiwa yang menginspirasi penciptaan Godzilla, film ini dapat dikatakan sebagai suatu simbol otonomi dan perjuangan negara; projeksi dari hasrat, kefrustrasian, dan penderitaan yang melambangkan keinginan kolektif untuk membawa Jepang diatas “panggung dunia” dengan rangkaian kepentingan dan kebutuhan nasional seperti contohnya perlawanan terhadap percobaan nuklir.
Kita juga dapat menghubungkan projeksi trauma ini melalui testimoni sinematik dengan kritikus film Andrew Tudor dalam konsepnya “Horor aman”, yang dimana ada sebuah ancaman terhadap kolektifitas masyarakat dari kekuatan eksternal dan pendirian kembali status quo melalui upaya pemerintah dan juga para ilmuwan. Kita sering menemukan hal yang demikian dalam bentuk ‘film kehancuran’, namun Godzilla memiliki perbedaan yakni bentuk trauma yang digambarkan sangat ditumpangkan dengan iklim sosial dan pendangan pada zaman tersebut. ‘Horor aman’ mengimajinasikan ulang peristiwa traumatik pada hasrat terdalamnya untuk mengkonseptualisasikan kesuksesan intervensi manusia; bagaimana kehancuran nuklir pada masa lalu dan percobaan bom nuklir yang terjadi pada masa kini dapat dihentikan. Penggambaran pemerintah yang kompeten yang bekerja sama dengan para ilmuwannya, serta adanya dukungan dari masyarakat publik dalam setiap keputusan mereka. Tentunya hal ini tidak sesederhana itu dalam dunia nyata, namun seperti yang telah dibahas sebelumnya, film memiliki potensi untuk mengkonstitusikan makna dan mencamtumkan pesan-pesan tertentu yang berpengaruh kepada mereka yang menontonnya, yang dimana hal ini memiliki potensi untuk memberikan perubahan sosial.
Profesor Universitas Waseda Norihiro kato memberikan argumen bahwa Godzilla dapat menjadi simbolisasi dari arwah masyarakat Jepang yang telah meninggal akibat perang yang mendatangi kampung halamannya; nuansa suram yang terdapat dalam film pertama ‘dibersihkan, dipasteurisasi, dan didetoksifikasi’ seiring dengan berkembangnya serial tersebut dan berkembangnya Jepang dari kondisi pasca peperangan hingga menjadi kekuatan ekonomik. Berkaitan dengan topik arwah mereka yang telah meninggal oleh Profesor Norihiro, Godzilla juga bisa jadi adalah suatu reformulasi dari mitos rakyat Jepang, terutama mengenai arwah penasaran (Onryo) yang dipercayai oleh masyarakat disana bahwa arwah ini dapat mencelakai pihak yang bertanggung jawab atas kematian mereka serta orang-orang yang tidak bersalah dan tidak terlibat atas kematian mereka, yang di saat bersamaan ada juga yang percaya bahwa arwah tersebut hanya menyakiti pihak yang bersalah namun tidak menyerang pihak yang tidak bersalah. Dalam industri sinema Jepang, arwah penasaran ini seringkali datang dalam bentuk arwah wanita yang telah dirugikan dan diperlakukan secara tidak benar oleh pria ketika mereka hidup dan mereka mencari pembalasan dengam atas kebencian mereka yang abadi, yang dimana contohnya dalam hal ini dapat dilihat pada film Ugetsu karya Mizoguchi (1953). Trauma yang dihasilkan oleh Godzilla dan trauma yang diberikan kepada Godzilla sendiri dikombinasikan menjadi suatu bentuk kekuatan yang dualistik, mungkin seolah-olah hanyalah sebuah pengulangan yang tidak bermakna namun jika dilihat secara lebih mendalam hal ini memperlihatkan bahwa Godzilla merepresentasikan pergolakan dalam psikis masyarakat Jepang terhadap penderitaan yang mereka alami akibat perang namun disaat bersamaan juga terhadap kekuatan atomik asing yang menyebabkan penderitaan tersebut.
Kekuatan dualistik Godzilla yang mencakup Diri Sendiri dan Orang Lain juga dijelaskan oleh ahli Sosiolinguistik Takao Suzuki, yang berargumen bahwa tidak seperti bahasa Indo-Eropa, bahasa Jepang tidak memiliki sejarah konsisten dalam membedakan kata ganti personal seperti “saya” dan “kami”, karena itu ia berpendapat bahwa selagi budaya Barat didasarkan pada oposisi dari Diri Sendiri terhadap Orang Lain, diri sendiri dalam budaya jepang lebih terbenam ke dalam pihak lain sehingga mereka dapat berempati dengan orang atau pihak lain yang wujudnya bukanlah manusia seperti contohnya Godzilla. Kita juga dapat melihat formulasi yang serupa dalam sains jepang lainnya-fiksi seperti karya dari Hayao Miyazaki. Saya mengusulkan bahwa argumen yang demikian masih dapat diperdebatkan dan memiliki jurang yang berbahaya untuk menjalar kepada topik yang problematik seperti Nihonjinron, sebuah genre literatur yang membahas identitas etnik dan kultural Jepang yang unik-aspek ini seringkali digunakan dalam nuansa yang dapat disimpulkan mendukung ethnonasionalisme. Meskipun demikian, interpretasi seperti ini memberikan cuplikan tentang bagaimana pembuat film membingkai Godzilla dalam filmnya.

Oleh karena itu, rekonsiliasi Godzilla sebagai simbol trauma menjadi sosok pemberdayaan dan kekuatan pun terjadi. Reimajinasi yang bersifat katartik dari pengalaman zaman peperangan melibatkan demonisasi sains Amerika Serikat dan penggambaran kemenangan sains ilmuwan Jepang yang menyelamatkan dunia dengan pengorbanan dari ilmuwan Jepang Dr. Serizawa (Akihiko Hirata). poin ini dapat ditafsirkan sebagai hal yang munafik karena kekaisaran Jepang yang melakukan kekejaman dan kejahatan perang pada era Perang Dunia II baik itu melalui pelanggaran Hak Asasi Manusia maupun eksperimentasi sains. Namun apa yang membuat Jepang berbeda dari katakanlah Jerman ialah kehancuran nuklir yang berdampak pada tanah negaranya, sehingga reimajinasi dari masa-masa tersebut melibatkan pengamatan terhadap era itu melalui ingatan yang buram dan diwarnai oleh penderitaan dan kehancuran. Ada sebuah nilai terapeutik dalam pemindahan, represi, serta projeksi dari peristiwa traumatik dalam narasi simbolik. Godzilla merepresentasikan Jepang (Diri Sendiri) dan juga Amerika Serikat (Pihak Lain). efek samping yang kita jumpai ialah tentunya menghapuskan trauma yang diakibatkan oleh Jepang ke negara jajahannya namun dampak trauma yang mutual sendiri adalah topik yang cukup rumit.
Rekonfigurasi Godzilla dari simbol trauma nasional menjadi sebuah sosok yang lebih identik dengan dewa pelindung terjadi melalui suatu proses rekonsiliasi dan refleksi penderitaan kolektif. Dalam konteks sinema nasional yang lebih luas, Godzilla mencakup esensi tertentu yang mengkonstitusikan ‘negara’ dan ia memiliki kontribusi terhadap pembentukan identitas kolektif masyarakat Jepang melalui perampasan dalam budaya populer dan kemudian legitimasi oleh pemerintah Jepang sebagai duta dan perwakilan kultural dari negaranya sendiri. Godzilla kini telah menjadi kekuatan kultural yang menyerupai projeksi sebuah kekuatan, yang melambangkan otonomi Jepang dan peringatan atas tragedi yang telah berlalu. Meskipun Godzilla nyaris terlepas dari konfigurasi yang demikian, terutama mempertimbangkan adaptasi Godzilla belakangan ini oleh negara barat oleh Legendary Pictures, memahami proses bagaimana kita tiba di masa kini memberikan pandangan yang lebih bernuansa mengenai identitas sejati monster tersebut.
Daftar Pustaka
Barett, G. (1989). Archetypes in Japanese Film: The Sociopolitical and Religious Significance of the Principal Heroes and Heroines. Cranbury: Associated University Press.
Chen, H. (2015, 3 Juni). Godzilla Finally Gets Citizenship in Japan. Diambil dari BBC: https://www.bbc.com/news/world-asia-32987622
Cooper, M. C., & Schoedsack, E. B. (Directors). (1933). King Kong [Motion Picture].
Honda, I. (Sutradara). (1954). Godzilla [Motion Picture].
Hongo, J. (2014, January 11). The Return of Godzilla, The King of Kaiju. Diambil dari The Japan Times: https://www.japantimes.co.jp/culture/2014/01/11/films/godzilla-returns/
Mettler, M. W. (2018). Godzilla Versus Kurosawa”: Presentation and Interpretation of Japanese Cinema in the Post World War II United States. Journal of American-East Asian Relations, 25, 413-437.
Mizoguchi, K. (Sutradara). (1953). Ugetsu [Motion Picture].
Napier, S. (1993). Panic Sites: The Japanese Imagination of Disaster from Godzilla to Akira. Journal of Japanese Studies, 19(2), 327-351.
Noriega, C. (1987). Godzilla and the Japanese Nightmare: When “Them!” Is U.S. Cinema Journal, 27(1), 63.
Vitali, V., & Willemen, P. (2006). Theorising National Cinema. London: British Film Institute.
Artikel ini diterjemahkan oleh Kachfi As Shidqi (@kachfishidqi), bagian dari Mania Cinema.
Kachfi As Shidqi adalah lulusan Hubungan Internasional yang sedang menetap di Pekanbaru. Ia tertarik pada berbagai topik budaya pop, khususnya game single player RPG, musik jazz fusion dan anime. Saat ini sedang melanjutkan studi magisternya.
Artikel asli dalam bahasa Inggris dapat ditemukan di sini







